Berjalan di gelapnya Jakarta
Memandangi gemerlap lampu kota
Yang sayup-sayup menerangi jalan yang tak terlihat ujungnya
Perlahan aku teringat akan kisah kita
Ramainya kendaraan yang lalu lalang
Berlawanan arah dan membuat hujan cahaya
Aku melihat bayang wajahmu di antaranya
Bayang yang sama yang masih kulihat setiap pagi
Renyahnya tawa yang datang dari peraduan
Yang tertutup rapat namun masih menyala
Membuatku bersyukur kau tidak memilihku
Karena hangat yang kau cari mungkin takkan pernah bisa kuberi
Pekatnya asap kendaraan
Begitu menyesakkan
Namun tak sebanding dengan sesak
Yang kurasa tiap kuingat kau, aku, dan cerita singkat tentang kita
Aku tinggal di sebuah kota yang tak pernah tertidur
Oh, setidaknya itu sedikit menenangkan
Karena aku tahu ku tak sendirian
Di malam-malam saatku meradang dan meringkuk menahan rinduku padamu
Ah, enyahlah kau sedih kataku sambil terus berjalan
Aku ingin menikmati Jakarta malam ini
Layaknya aku menghidupi harapan bodoh ini:
Sendiri.
Memandangi gemerlap lampu kota
Yang sayup-sayup menerangi jalan yang tak terlihat ujungnya
Perlahan aku teringat akan kisah kita
Ramainya kendaraan yang lalu lalang
Berlawanan arah dan membuat hujan cahaya
Aku melihat bayang wajahmu di antaranya
Bayang yang sama yang masih kulihat setiap pagi
Renyahnya tawa yang datang dari peraduan
Yang tertutup rapat namun masih menyala
Membuatku bersyukur kau tidak memilihku
Karena hangat yang kau cari mungkin takkan pernah bisa kuberi
Pekatnya asap kendaraan
Begitu menyesakkan
Namun tak sebanding dengan sesak
Yang kurasa tiap kuingat kau, aku, dan cerita singkat tentang kita
Aku tinggal di sebuah kota yang tak pernah tertidur
Oh, setidaknya itu sedikit menenangkan
Karena aku tahu ku tak sendirian
Di malam-malam saatku meradang dan meringkuk menahan rinduku padamu
Ah, enyahlah kau sedih kataku sambil terus berjalan
Aku ingin menikmati Jakarta malam ini
Layaknya aku menghidupi harapan bodoh ini:
Sendiri.
posted from Bloggeroid
No comments:
Post a Comment